Jelang Ramadan tahun ini, aku pulang kampung setelah tiga tahun merantau. Ibuku sudah setahun lebih terbaring di makam ini, dan baru sekarang aku bisa menziarahinya.
“Kamu terlambat, Ndra,” bisikku dalam hati sambil meletakkan sekuntum mawar putih di atas pusara. Makam ibu sederhana saja, hanya nisan kayu dengan namanya: Sulastri, 1965-2024.
Di sekelilingku, puluhan orang lalu lalang dengan kantong plastik berisi air bersih, sapu lidi, dan bunga. Tradisi ziarah jelang Ramadan di kampungku memang selalu ramai. Orang-orang membersihkan makam keluarga, mendoakan leluhur, seolah mengajak mereka menyambut bulan suci bersama-sama.
“Ndra?” suara berat menyapaku. Ternyata Bang Jon, tetangga sebelah rumah, sedang membersihkan makam ibunya dua baris di belakang.
“Lama nggak pulang, ya?” tanyanya sambil menyapu dedaunan kering.
“Iya, Bang. Baru bisa sekarang.”
Bang Jon mengangguk paham. “Bapakmu setiap Jumat ke sini. Kadang cuma duduk diam sejam, lalu pulang.”
Aku menunduk. Selama ini aku terlalu sibuk dengan hidup di kota, lupa bahwa di kampung ada bapak yang setiap pekan mengunjungi makam istri tercintanya.
Sore semakin tua ketika aku memutuskan pulang. Dalam perjalanan, aku melewati makam Mbah Karto, sesepuh desa yang wafat tahun lalu. Di sana, anak cucunya sedang duduk melingkar, membaca Yasin bersama. Suara lirih mereka berbaur dengan suara jangkrik yang mulai bersahutan.
Tiba-tiba, sesuatu menarik perhatianku. Di pojok makam, seorang gadis kecil sekitar sembilan tahun duduk sendirian di depan pusara yang nisannya miring. Ia meletakkan sepiring ketan dan pisang, lalu mengelap nisan itu dengan kain basah.
Aku mendekat. “Ziarah, Dik?”
Gadis itu menoleh. Matanya sembab. “Iya, Mas. Ini makam ibu. Aku bawa kesukaan beliau.”
“Sendirian aja?”
“Bapak kerja di luar kota, Mas. Katanya minggu depan baru pulang. Tapi aku nggak mau kalau ibu menyambut Ramadan sendirian.”
Hatiku terenyuh. “Mau Mas temani baca doa?”
Gadis itu mengangguk.
Kami duduk bersebelahan. Aku membimbingnya membaca Al-Fatihah dan doa untuk kedua orang tua. Selepas itu, ia tersenyum. “Makasih, Mas. Ibu pasti senang.”
Kulihat binar di matanya. Ia lalu mengeluarkan buku kecil dari tasnya. “Ini catatan resep ibu. Aku mau coba bikin ketan kesukaan beliau buat buka puasa nanti.”
Senja semakin merah saat kami berpisah. Dalam perjalanan pulang, aku merenung. Tradisi ziarah jelang Ramadan ini bukan sekadar ritual tahunan. Di balik sapu lidi yang membersihkan makam, ada cinta yang tak pernah mati. Di balik doa yang dipanjatkan, ada kerinduan yang tak terucap. Di balik sepiring ketan yang diletakkan di pusara, ada seorang anak yang berusaha menjaga ibunya tetap hidup, dalam ingatan, dalam resep masakan, dalam setiap tradisi yang diwariskan.
Sampai di rumah, bapak sedang duduk di teras. “Sudah ziarah?”
“Sudah, Pak.”
“Besok pagi-pagi kita ke makam lagi. Biasanya sebelum subuh pertama Ramadan, makah ibu minta didoakan.”
Aku mengangguk. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku membantu bapak menyiapkan bunga dan air untuk ziarah esok hari. Untuk pertama kalinya pula, aku merasa bahwa ibu tak benar-benar pergi. Ia masih ada, dalam tradisi yang terus kami jaga, dalam doa yang tak putus kami panjatkan, dan dalam Ramadan yang masih setia datang mengingatkan kami pada arti pulang.
Di kejauhan, bedug Magrib berbunyi. Esok, puasa pertama dimulai. Malam ini, di penjuru kampung, lampu-lampu makam menyala terang, menemani mereka yang telah pergi, menyambut mereka yang masih setia datang. *