Ketika Bedug Ramadhan Berganti Suara Bom

on

Jelajah rasa di bulan yang sama. Di ujung telepon seluler, dua dunia bertemu dalam satu bingkai Ramadhan.

Dering video call tersambung…

“Assalamu’alaikum, Muhammad… masih di sana?”

“Wa’alaikumsalam, Tante Nina… Alhamdulillah, saya masih hidup.”

Senja di Jakarta baru saja merayap. Tante Nina menyapu pandang ke layar, Muhammad duduk di antara puing-puing yang dulu adalah rumahnya di Gaza. Di tangannya, sebiji kurma dan gelas plastik berisi air keruh.

“Ini menu buka puasamu, Muhammad?”

Muhammad tersenyum. Senyum yang membuat Tante Nina ingin memeluknya dari jarak ribuan kilometer.

“Alhamdulillah, Tante. Hari ini saya dapat kurma dari relawan. Biasanya hanya air garam untuk buka.”

Tante Nina menahan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. Di meja makannya, 30 menu iftar berjejer, pesanan khusus dari katering premium. Gulai kambing, sate taichan, aneka gorengan, tiga jenis kolak, dan es buah segar.

“Tante… kenapa diam saja?”

“Tante hanya berpikir, Nak… Tante punya terlalu banyak, sementara kamu punya terlalu sedikit.”

Muhammad tertawa kecil. “Tidak apa-apa, Tante. Allah tahu siapa yang benar-benar berpuasa. Puasa saya tahun ini istimewa, saya belajar bahwa kelaparan itu tidak selalu ibadah. Kadang kelaparan adalah takdir yang harus dijalani dengan sabar.”

Dua Puasa yang Berbeda
Di Sudan, Ummu Aisyah mengaduk panci berisi air dan garam. Tiga anaknya duduk melingkar, menunggu maghrib dengan mata berbinar, mereka belum tahu, yang diaduk hanya angan-angan.

“Bu, nanti buka puasa kita ada apa?” tanya Aisyah, yang baru berusia 6 tahun.

Ummu Aisyah menelan ludah. Menahan air mata. Lalu berkata pelan, “Kita buka dengan doa, sayang. Doa lebih mengenyangkan dari makanan.”

“Tapi Bu, kakak bilang di televisi, anak-anak Indonesia buka puasa dengan es buah dan kolak. Kolak itu apa, Bu?”

Ummu Aisyah memeluk anaknya erat-erat. “Kolak itu… makanan surga, Nak. Nanti kalau sudah di surga, kita makan kolak bersama-sama.”

Di Jakarta, seorang selebgram sibuk mengatur kamera. “Halo gaes, Ramadhan day one! Menu iftar perdana di hotel bintang lima! Bismillah, konten dulu ya sebelum buka!” Ia memotret dari 12 sudut berbeda. Makanan sudah dingin, tapi konten harus tetap aestethic.

Di Gaza, Muhammad memejamkan mata saat azan maghrib berkumandang. Di sekelilingnya, suara bom sesekali menyelingi lantunan merdu sang muadzin. Ia menggigit kurma, satu-satunya yang ia miliki, dan menahan air mata.

“Ya Allah… terima kasih untuk satu kurma ini. Mungkin di tempat lain, kurma ini hanya pencuci mulut. Tapi bagi kami, ini adalah rahmat-Mu yang tak terhingga.”

Sahur di Dua Benua
Jam 2 dini hari, Indonesia bergeliat. Lampu dapur menyala di ribuan rumah. Live TikTok membanjiri beranda. “Siapa yang sahur sambil scroll? Komen dong!” Seorang suami bertanya pada istri, “Sayang, menu sahur besok apa ya?” Istrinya menjawab sambil scroll GoFood, “Nanti kita lihat Flash Sale jam 12-an ya, biar dapat diskon.”

Di Gaza, Muhammad terbangun bukan karena alarm, tapi karena suara pesawat tanpa awak yang berdengung seperti nyamuk raksasa. Ia meraba tubuhnya, masih utuh. “Alhamdulillah,” bisiknya, “hari ini saya masih bisa puasa.”

Ibunya datang membawa mangkuk. “Muhammad… kita sahur dengan air ini. Maafkan Ibu, hanya ini yang ada.”

Muhammad meminum air itu seteguk. Lalu tersenyum. “Ibu, air ini lebih manis dari kurma mana pun. Karena Ibu memberikannya dengan cinta.”

Di sudut lain Gaza, seorang nenek duduk di atas puing rumahnya. Di tangannya sebiji kurma, satu-satunya yang tersisa dari stok Ramadhan. Seorang relawan mendekat.

“Nek, kenapa tidak dimakan? Ini untuk buka puasa Nenek.”

Nenek itu menggeleng. “Bawa ini untuk Muhammad yang kehilangan ibunya kemarin. Biarlah aku puasa tanpa buka. Tubuhku sudah tua, tapi semangatnya masih muda. Dia lebih butuh.”

Ketika Berbagi Mengubah Segalanya
Tante Nina tidak bisa tidur setelah video call dengan Muhammad. Ia membuka lemari es, penuh dengan makanan. Membuka dompet, penuh dengan uang. Membuka hati, dan mendapati kekosongan yang selama ini tidak ia sadari.

Keesokan harinya, ia menghubungi teman-temannya.

“Teman-teman, mulai sekarang, setiap kali kita membeli makanan iftar, sisihkan untuk saudara kita di Gaza dan Sudan.”

“Tapi Nina, kita kan sudah bayar zakat?”

“Zakat itu kewajiban. Ini… ini kebutuhan. Kebutuhan untuk merasakan bahwa lapar itu nyata, dan bahwa kita bisa melakukan sesuatu.”

Mereka mulai menggalang dana. Bukan zakat, itu sudah jalan sendiri. Tapi sedekah, infak, dan gerakan kecil, “Satu Menu untuk Gaza”.

Setiap kali seseorang membeli nasi goreng untuk iftar, mereka menyisihkan uang untuk mengirim paket makanan ke Palestina. Setiap kali seseorang memesan es buah, mereka menyisihkan untuk air bersih di Sudan.

Malam Lailatul Qadar yang Berbeda
Malam ke-27 Ramadhan.

Di Masjidil Haram, jutaan orang berdesakan. Suara takbir menggema. Besar harapan umat kalau malam itu Adalah malam seribu bulan, malam penuh kemuliaan.

Di Masjid Gaza yang tersisa, hanya segelintir orang yang tersisa. Sebagian telah syahid, sebagian berlindung di tenda-tenda pengungsian. Tapi mereka tetap shalat. Di atas puing, di bawah tenda, di mana pun mereka bisa bersujud.

Muhammad shalat di samping ibunya. Tangan mereka menggenggam erat.

“Bu, kata Tante Nina, hari ini mereka kirim paket makanan untuk kita. Besok sampai, Insya Allah.”

Ibunya menangis. Bukan karena lapar, tapi karena masih ada yang peduli.

Di Jakarta, Tante Nina tidak pergi ke mall malam itu. Ia duduk di rumah, membuka Al-Qur’an, dan berdoa.

“Ya Allah… pertemukan aku dengan Muhammad di surga-Mu nanti. Aku ingin duduk bersamanya, berbuka bersamanya, dan tertawa bersamanya. Di tempat di mana tidak ada bom, tidak ada lapar, tidak ada air mata.”

Setelah semua itu, berita tentang gerakan “Satu Menu untuk Gaza” menyebar.

Di kantor-kantor, orang mulai membawa kotak infak. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyisihkan uang jajan mereka. Di masjid-masjid, kotak amal bertuliskan “Untuk Saudara yang Lapar” selalu penuh sebelum maghrib.

Seorang pengusaha restoran memutuskan, “Setiap pembelian satu menu iftar, saya sumbangkan satu menu untuk Palestina.”

Seorang ibu rumah tangga mengajari anaknya, “Nak, setiap kali kamu mengeluh lapar saat puasa, ingatlah Muhammad di Gaza. Laparmu akan berakhir saat maghrib. Laparnya mungkin tidak akan pernah berakhir jika kita tidak membantu.”

Di Sudan, Ummu Aisyah akhirnya menerima paket makanan dari Indonesia. Ia menangis tersedu-sedu. “Mereka tidak kenal kami. Mereka tidak tahu wajah kami. Tapi mereka mengirim makanan.”

Di Gaza, Muhammad membuka paket itu bersama ibunya. Ada kurma, ada beras, ada susu untuk adik-adiknya. Ia memegang selembar kertas kecil di dalam paket,

“Untuk Muhammad di Gaza. Untuk ibunya. Untuk semua yang berpuasa dengan kelaparan yang tidak dipilih. Dari kami yang ingin berbagi. Maafkan jika ini belum cukup. Tapi ini dari hati.”

Muhammad menempelkan kertas itu di dadanya. “Bu, lihat… mereka minta maaf karena belum cukup. Padahal, ini lebih dari cukup. Ini… ini cinta.”

Ramadhan Berakhir, Tapi Berbagi Tidak
Idul Fitri tiba.

Di Indonesia, orang-orang bersalam-salaman. Makanan berlimpah. Opor, ketupat, rendang. Anak-anak berlarian dengan baju baru, meminta THR.

Di Gaza, Muhammad dan ibunya shalat Ied di atas reruntuhan. Mereka hanya punya satu potong baju, yang mereka cuci malam sebelumnya agar bisa dipakai untuk shalat. Tidak ada ketupat, tidak ada rendang. Tapi ada senyum.

“Bu, tahun ini Ramadhan kita berbeda.”

“Iya, Muhammad. Berbeda.”

“Tapi Bu, aku senang. Karena meskipun kita lapar, kita tidak sendiri. Ada orang-orang di sana yang memikirkan kita. Ada yang mendoakan kita. Ada yang berbagi dengan kita.”

Ibunya memeluknya. “Itulah Ramadhan, Nak. Mengajarkan kita bahwa kita satu tubuh. Jika satu bagian sakit, seluruh tubuh merasakannya. Tahun ini, kita adalah bagian yang sakit. Tapi lihat… seluruh tubuh itu bergerak membantu kita.”

Di sini, di Indonesia, kita mungkin tidak bisa menghentikan bom. Kita mungkin tidak bisa mengakhiri perang. Tapi kita bisa melakukan sesuatu yang tidak kalah besar,

Kita bisa berbagi.

Setiap kali kita membeli makanan untuk iftar, ingatlah bahwa di Gaza dan Sudan, ada yang berbuka hanya dengan air garam.

Setiap kali kita mengeluh lapar saat puasa, ingatlah bahwa di sana, lapar bukan pilihan, tapi takdir yang harus dijalani dengan iman.

Setiap kali kita bersyukur atas hidangan yang berlimpah, ingatlah bahwa rasa syukur terbaik adalah berbagi.

Selanjutnya kita bisa lakukan, menyisihkan sebagian harta, ambil beberapa persen dari budget iftar kita, kirimkan untuk saudara di Gaza dan Sudan. Tidak harus besar, yang penting konsisten.

Bisa juga membuat gerakan kecil, mengajak teman-teman kantor, keluarga, atau tetangga untuk patungan setiap minggu. “Satu Meja untuk Gaza”, setiap kali kita makan bersama, sisihkan uang untuk mereka.

Lalu doakan, jangan remehkan kekuatan doa. Di sepertiga malam, saat kita sahur, doakan mereka. Sebut nama mereka. Mungkin di saat yang sama, mereka juga mendoakan kita.

Edukasi Anak-anak, ajari mereka bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tapi juga merasakan lapar saudara yang lain. Biarkan mereka menyisihkan uang jajan untuk anak-anak di Palestina dan Sudan.

Jangan tunda, setiap detik berlalu, ada ibu di Gaza yang menangis karena anaknya kelaparan. Ada anak di Sudan yang pingsan karena tidak makan dua hari. Bantu sekarang. Lewat lembaga terpercaya, lewat teman yang amanah, lewat cara apa pun yang bisa.

Surat dari Muhammad
Kepada Tante Nina dan semua saudara di Indonesia…

Assalamu’alaikum.

Saya ingin bercerita tentang Ramadhan saya tahun ini.

Setiap hari saya puasa, saya belajar bahwa kelaparan itu menyakitkan. Tapi tahu tidak apa yang lebih menyakitkan? Melihat ibu saya menangis karena tidak bisa memberi saya makanan.

Setiap hari saya mendengar bom. Tapi tahu tidak suara apa yang paling saya rindukan? Suara tawa adik-adik saya, yang sudah lama tidak saya dengar karena mereka terlalu lemas.

Tapi Tante, saya juga belajar sesuatu yang indah.

Ketika paket dari Indonesia datang, saya melihat ibu saya tersenyum. Senyum yang sudah lama hilang. Ketika saya makan kurma dari Tante, saya merasakan sesuatu yang lebih manis dari kurma, rasa bahwa kami tidak dilupakan.

Tante, puasa saya tahun ini mengajarkan bahwa meskipun kami lapar, kami tidak kelaparan cinta. Masih ada orang-orang baik di dunia ini yang peduli.

Di hari Idul Fitri nanti, saya tidak akan meminta baju baru atau uang. Saya hanya akan meminta satu hal pada Allah, semoga Tante dan semua yang membantu kami, diberi kesehatan, kebahagiaan, dan surga-Nya.

Terima kasih telah mengingat kami.

Terima kasih telah berbagi.

Mungkin kami tidak bisa membalas. Tapi Allah pasti bisa.

Salam rindu dari Gaza yang masih berdiri karena doa dan bantuan kalian.

Muhammad

Jadikan Ramadhan Berikutnya Berbeda

Kita tidak tahu apakah Ramadhan tahun depan kita masih panjang umur. Tapi kita tahu, detik ini, ada yang bisa kita lakukan.

Berbagi tidak harus menunggu kaya. Berbagi cukup dengan niat.

Jika 1.000.000 orang Indonesia menyisihkan Rp10.000 setiap hari selama Ramadhan, itu berarti Rp.300.000.000.000 rupiah dalam sebulan. Cukup untuk memberi makan ribuan anak di Gaza dan Sudan.

Jika satu juta orang Indonesia mendoakan mereka setiap habis shalat, itu berarti sejuta doa yang naik ke langit setiap hari. Cukup untuk membuat langit Gaza tersenyum.

Kita bisa. Kita mampu. Kita harus.

Karena mereka bukan hanya saudara seiman. Mereka adalah bagian dari tubuh kita.

Dan ketika satu bagian sakit, seluruh tubuh harus bergerak menyembuhkan.

Selamat Idul Fitri. Maaf lahir dan batin.
Untuk Muhammad di Gaza, untuk Ummu Aisyah di Sudan, untuk semua yang berpuasa dengan kelaparan yang tak terpilih, kalian selalu di hati kami.

Dan kami akan terus berbagi. Sampai suatu hari nanti, kita bisa berbuka puasa bersama di meja yang sama. Di dunia, atau di surga-Nya.

Aamiin.

Mari berbagi sekarang. Jangan tunggu nanti. Karena nanti bisa terlambat.

Tinggalkan komentar