Belajar Dari Buku Reset Indonesia dan Confessions

on

Baru-baru ini saya dapat buku baru berjudul “Reset Indonesia”. Buku ini tampak seperti seruan aksi kolektif untuk membongkar sistem usang dan membangun Indonesia versi baru yang lebih adil, mandiri, dan siap menghadapi masa depan.

Pesan utamanya, “Kita tidak bisa hanya menunggu perubahan dari atas, tapi harus menciptakannya dari bawah dengan inovasi, kolaborasi, dan keberanian meninggalkan cara lama.”

Buku ini relevan dibaca oleh aktivis, pengusaha, pegiat sosial, pemuda, dan siapa pun yang peduli pada masa depan Indonesia.mengingat dulu pernah ada Confessions of an Economic Hit Man, buku yang belasan tahun lalu pernah saya baca. Sepertinya ada kemiripan, ya saya melihat ada kesamaan arah dan maksud dari buku yang judulnya Confessions of an Economic Hit Man itu dengan Reset Indonesia. Tentunya ini menarik!

Tampaknya memang ada beberapa kesamaan mendasar dalam arah dan maksud antara “Reset Indonesia” karya gabungan Farid Gaban, Dhandi D Laksono dan Kawan-kawandan dengan “Confessions of an Economic Hit Man” (Confessions) karya John Perkins, meskipun konteks, gaya, dan fokusnya sangat berbeda.

Mari lihat persamaan dan perbedaan arah dan maksudnya, intinya berupa kritik terhadap sistem yang telah dan sedang berjalan. Di buku Confessions, cenderung mengungkap sistem global yang korup di mana negara-negara maju (lewat korporasi, bank, dan institusi seperti IMF/Bank Dunia) sengaja menjerat negara berkembang dengan utang besar dan proyek megah untuk menundukkan mereka secara ekonomi dan politik.

Sementara Reset Indonesia mengkritik sistem dalam negeri Indonesia yang korup, elitis, dan tertinggal, yang dijaga oleh oligarki dan birokrasi yang tak berubah. Dari sini terlihat kesamaan kalau keduanya berangkat dari diagnosis bahwa sistem yang ada cacat, tidak adil, dan bekerja untuk kepentingan segelintir elite (global dalam Confessions, domestik dalam Reset).

Terlihat kedua buku itu berisi panggilan untuk kesadaran dan kebangkitan. Di Confessions, buku ini adalah “pengakuan” untuk membuka mata publik (terutama AS) tentang praktik kotor di balik pembangunan global. Maksudnya adalah menyadarkan bahwa kemiskinan dan ketergantungan negara dunia ketiga seringkali adalah hasil rekayasa.

Sementara di Reset Indonesia lebih bertujuan menyadarkan pembaca Indonesia bahwa negara ini berada di “ujung jurang” dan perlu perubahan radikal. Ia mendorong kesadaran kritis untuk keluar dari pola pikir “business as usual”.

Dari situ ada kesamaan, keduanya adalah buku yang bersifat membangunkan (wake-up call). Mereka ingin pembaca tidak naif dan memahami akar masalah struktural. Kedua buku ini sangat anti-status quo. Mereka menolak narasi resmi bahwa perkembangan sedang berjalan baik atau cukup dengan perbaikan kecil.

Di Confessions, jelas menolak narasi bahwa globalisasi dan utang luar negeri selalu membawa kemakmuran, dan Reset Indonesia lebih menolak narasi bahwa demokrasi prosedural dan pertumbuhan ekonomi sudah cukup, namun masih butuh reset fundamental.

Semangat kedua-duanya lebih terlihat untuk perubahan yang berpihak pada rakyat. Meski dari sudut berbeda, semangat akhir kedua buku adalah menciptakan tatanan yang lebih adil dan berdaulat. Di Confessions berpihak pada kedaulatan negara-negara berkembang agar tidak dieksploitasi. Di Reset Indonesia lebih berpihak pada kedaulatan dan kemandirian Indonesia serta kesejahteraan warganya.

Walau terlihat sama, tetap ada perbedaan penting terutama dalam nuansa yang berbeda, yakni lokus dan aktor utamanya. Confessions lebih fokus pada hubungan luar negeri dan ekonomi global. Aktor jahatnya adalah Economic Hit Men, korporasi multinasional, dan pemerintah negara adidaya.

Sementara Reset Indonesia berfokus pada tantangan dan solusi dalam negeri Indonesia. Aktor penghambatnya adalah oligarki dalam negeri, birokrasi yang beku, dan mentalitas kita sendiri. Jenis ancaman yang digambarkan kedua buku ini, Confessions melihat ancaman datang dari luar (imperialisme ekonomi/model neo-kolonial). Pada Reset Indonesia, ancaman justru banyak dari dalam (sistem yang busuk, kurang inovasi, tata kelola buruk), meski juga waspada pada tantangan global.

Solusi yang ditawarkan kedua buku juga ada hal-hal tersendiri. Confessions lebih bersifat eksposé dan pengakuan. Solusi tidak terlalu terstruktur, lebih pada seruan moral untuk menghentikan sistem itu. Fokus pada “melawan” kekuatan asing.

Reset Indonesia lebih bersifat proposal dan cetak biru. Menawarkan solusi teknis dan ideologis di berbagai sektor (energi, digital, pemerintahan, pendidikan) untuk “membangun” sistem baru dari dalam.

Genre dan gaya pun ada hal sediri-sendiri. Pada Confessions lebih banyak berupa memoar/non-fiksi naratif yang dramatis, personal, dan penuh kisah rahasia. Seperti novel thriller. Pada Reset Indonesia lebih berupa buku putih (white paper) / manifesto kebijakan yang analitis, berbasis data, dan ditulis oleh banyak ahli. Lebih mirip laporan strategis.

Analogi untuk memahami hubungan keduanya, mari bayangkan Indonesia seperti sebuah rumah. “Confessions of an Economic Hit Man” seperti buku yang memperingatkan bahwa ada rentenir dan penipu dari luar kota yang ingin menjerat pemilik rumah dengan utang palsu dan mengambil alih rumahnya.

Reset Indonesia seperti buku manual yang mengatakan, “Rumah kita sendiri sudah bobrok, atap bocor, tiang lapuk, dan pengelolanya korup. Mari kita bongkar dan bangun ulang dengan desain baru yang lebih kuat dan mandiri, agar tidak mudah ditipu rentenir dan siap menghadapi badai.”

Jadi, yaaaa, betapa jauhnya beda masa terbit dan beredarnya kedua buku ini, tetap ada kesamaan arah dan maksud yang kuat di dalamnya, yaitu ingin membongkar ketidakadilan sistem yang mapan dan mendorong pembaca untuk menyadari bahwa perubahan radikal diperlukan. Namun, arahnya berbeda. Pada Confessions yang jelas melihat ke luar, ke sistem global yang menindas dan Reset Indonesia melihat ke dalam, ke sistem domestik yang perlu dibenahi secara total.

Membaca keduanya justru akan memberikan perspektif yang komprehensif tetntang ancaman dari luar (seperti yang diungkap Perkins) dan kelemahan dari dalam (seperti yang dianalisis Farid Gaban dan kawan-kawan). Keduanya bagai dua sisi mata uang yang menjelaskan mengapa sebuah negara seperti Indonesia bisa terjebak dalam masalah yang kompleks.

Jadi, membaca Confessions of an Economic Hit Man dan Reset Indonesia, bisa menjadi pengalaman yang mirip dengan menonton dua episode sinetron yang berbeda, tetapi dengan villain (karakter dalam cerita fiksi (film, buku, komik) yang memiliki peran jahat dan menjadi musuh utama bagi pahlawan) yang sama-sama gendut dan banyak duit.

Yang satu, kisah epik Hollywood-style tentang agen rahasia yang mendalangi utang negara Dunia Ketiga sambil sesekali berpose di pantai Bali. Yang satunya lagi, laporan pertanggungjawaban yang muram dari sekelompok orang Indonesia yang (setelah berpuluh tahun menyalahkan orang lain) akhirnya berani bercermin dan berteriak, “Woy, muka kita sendiri yang jelek ternyata!”

John Perkins, sang “Economic Hit Man”, adalah protagonis yang kita cintai. Dia datang dengan jas Armani dan kalkulator kapitalis, menawarkan pinjaman untuk pembangkit listrik yang hanya akan dipakai oleh satu pabrik milik keponakan menteri. Misi sucinya membuat negara kita tenggelam dalam utang, lalu dengan hati “berat” mengambil alih kekayaan alam kita.

Ah, betapa nyamannya rasanya memiliki musuh seperti ini! Sebuah narasi yang rapi, kita yang jadi korban dan mereka penjahat. Kita bisa tidur nyenyak sambil menyalahkan Bank Dunia, IMF, dan kapitalis global untuk setiap mati listrik dan jalan bolong di depan rumah.

Kemudian datanglah Farid Gaban, Dandi Laksono, dan “kawan-kawan” itu, menguak semua kemewahan menyalahkan orang lain dengan buku Reset Indonesia. Mereka berani berkata, “Eh, tunggu dulu. Mungkin, cuma mungkin ya, kitalah aktor utama yang memerankan badut dalam sirkus kegagalan ini.” Sungguh tidak patriotik! Bukankah lebih enak kita nyanyi “Indonesia Raya” sambil menunjuk ke Barat sebagai biang keladi?

Buku mereka adalah satire yang terlihat tidak disengaja terhadap kita semua. Mereka bicara tentang “reset” dengan wajah serius, seperti seorang teknokrat yang mencoba memperbaiki smartphone yang dilempar dari lantai 20. Sementara kita? Kita sibuk berdebat apakah smartphone itu harus dibenahi dengan doa bersama, upacara bendera, atau malah diserahkan pada keluarga pemilik konter terdekat untuk “diamankan”.

Confessions membuat kita merasa seperti pahlawan tragis yang dijajah oleh spreadsheet dan suku bunga. Reset tegas mengingatkan, “Dik, spreadsheet-nya juga diketik oleh anak-anak negeri sendiri yang lulusan S2 luar negeri. Suku bunganya disetujui oleh orang-orang yang sekantor dengan kamu.”

Perkins menggambarkan sebuah dunia di mana Indonesia adalah bidak catur yang lugu. Farid Gaban dan kawan malah membalik papan catur itu dan menunjukkan bahwa kita bukan cuma bidak, tapi juga pemain yang sukarela memakan bidak sendiri demi dianggap “keren” di meja perjudian global.

Kesamaan terbesar kedua buku ini, mereka sama-sama mengganggu kenyamanan kita. Yang satu mengganggu kenyamanan kita sebagai “korban abadi.” Yang satunya mengganggu kenyamanan kita sebagai “penonton pasif.”

Tapi inilah satire terbaiknya, setelah membaca kedua buku itu, apa yang kita lakukan? Kita, para intelektual, aktivis, dan netizen, akan berdiskusi panas di medsos, membuat utas panjang, mengutip kalimat-kalimat bombastis dari kedua buku, lalu memesan kopi artisan sambil mengeluh bahwa pemerintah tidak secepat kita membaca buku.

Kita telah menjadi Economic Hit Man bagi diri sendiri, menjerat masa depan dengan utang mental, proyek mercusuar wacana, dan infrastruktur gagasan yang hanya selesai di medsos. Para penulis Reset Indonesia mungkin sedang mengetik draft sequel Restart Indonesia, karena tombol resetnya justru menunggu delivery yang antre lisensi Ojek Online untuk mengantarkan buku Reset Indonesia untuk dibaca, dipelajari dan menekan tombol Reset..

Satire sesungguhnya bukanlah pada isi buku-buku itu. Satire sesungguhnya adalah pembaca yang bisa bersemangat membedah sistem global dan nasional di grup WhatsApp, tapi bingung cara mereset mesin cuci sendiri.

Selamat datang di Indonesia, di mana musuh terbesar bukanlah Economic Hit Man dari Washington, tapi rasa yang bersemayam di setiap sudut mental kita. Reset? Tunggu dulu, kita masih sibuk menyalahkan penjajah dulu. Itu saja sudah makan waktu 80 tahun lebih.

Bisa jadi bagi rakyat akan berkata, “Kami siap direset! Asalkan ada fitur “undo” jika ketika reset itu ternyata cuma ganti kemasan lama dengan logo digital”. Atau meminta ganti antrian fisik dengan antrian virtual dan ganti keluhan langsung dengan chatbot yang bilang: “Permintaan Anda sedang diproses tanpa estimasi waktu yang logis.

Salam hangat dari “Rakyat Beta-Tester” yang sudah ahli dalam mereset ekspektasi hidup setiap pagi.

Tinggalkan komentar