Di Bawah Bayang-Bayang Raksasa

on

Kota itu seperti kue lapis yang dimakan dengan cara yang salah. Di puncaknya, para raksasa tinggal di menara kaca dan baja, sementara di dasarnya, orang-orang seperti Pak Sardi berjuang untuk sekadar bertahan.

Pak Sardi adalah seorang sopir angkot. Setiap pagi, dia melintasi jalanan yang sama, mengitari gedung-gedung pencakar langit yang konon dimiliki oleh orang-orang yang namanya sering menghiasi berita.

Suatu hari, di lampu merah, sebuah baliho raksasa menampilkan wajah seorang konglomerat dengan senyum percaya diri. Di bawahnya terpampang tulisan, “Kontribusi untuk Negeri.” Sardi menghela napas.

Kontribusi seperti apa yang bisa dirasakannya, jika untuk membayar uang pangkal sekolah anaknya saja ia harus meminjam hingga ke rentenir?

Sementara itu, di puncak menara tertinggi, seorang pria bernama Pak Joni, salah seorang dari 34 orang terkaya di Indonesia, sedang memandangi kota dari balik kaca anti peluru. Kekayaannya yang mencapai Rp 411,6 triliun bagai angka di alam lain, begitu abstrak dan tak terjangkau.

Hari itu, perusahaan miliknya merilis laporan laba yang meningkat 163% dalam sepuluh tahun terakhir, sebuah pertumbuhan yang jauh melampaui peningkatan PDB per kapita nasional yang hanya 44% dalam periode sama. Ia merasa itu adalah buah dari kerja keras dan kecerdasannya.

Tanpa mereka sadari, hidup mereka dihubungkan oleh sebuah angka ajaib bernama Material Power Index (MPI). Pada tahun 2024, MPI Indonesia mencapai 1.263.381.

Itu berarti, rata-rata kekayaan orang-orang seperti Pak Joni setara dengan 1,26 juta kali kekayaan rata-rata orang seperti Pak Sardi.

Angka itu bagai tembok kaca yang tak terlihat, memisahkan dua dunia yang tak akan pernah benar-benar bertemu.

Konflik mulai memuncak ketika harga kebutuhan pokok melambung. Ibu-ibu di kampung Sardi mengadukan hal ini kepada kepala daerah. Seorang pejabat, dengan wajah datar, berusaha menenangkan dengan mengatakan bahwa Rasio Gini hanya 0,375 dan situasinya “terkendali”.

Tapi, bagi Sardi yang melihat langsung bagaimana 45,56% pengeluaran nasional dikuasai oleh 20% kelompok teratas, kata-kata itu terdengar seperti lelucon pahit. Ia ingat, di angkotnya, dari setiap Rp 100.000 yang dibelanjakan penumpangnya, hampir Rp 45.000 berasal dari kelompok yang sama sekali tidak ia kenal hidupnya.

Suatu siang, Sardi mengantarkan seorang penumpang yang terburu-buru. Dari obrolan singkat, ia tahu pria itu adalah seorang ekonom muda. “Indonesia ini negara ke-6 dengan ketimpangan kekayaan tertinggi di dunia, Pak,” ujar ekonom itu setengah bergumam, seperti mencoba menerangkan kegelisahannya sendiri.

“Kita tumbuh, tapi manfaatnya hanya berputar-putar di puncak. Yang di bawah hanya kebagian semprotan airnya.” Kata-kata itu mengendap di pikiran Sardi, memberikan nama pada rasa frustrasi yang selama ini ia pendam.

Keresahan itu akhirnya menemukan salurannya. Sebuah unjuk rasa besar terjadi di pusat kota. Ribuan orang, termasuk tetangga Sardi, turun ke jalan. Mereka memprotes ketidakadilan, kenaikan harga, dan kesenjangan yang kian melebar.

Seorang pengamat, seperti Wijayanto dari LP3ES, pernah mengatakan bahwa ketimpangan ekonomi yang lebar cepat atau lambat akan menyulut protes.

Di hari itu, prediksinya menjadi kenyataan. Aksi itu berlangsung tertib, tetapi kemarahan di mata para pengunjuk rasa terasa nyata.Pemerintah pun bergerak.

Beberapa kebijakan diumumkan: diskon belanja ritel, program Makan Bergizi Gratis, dan stimulus perumahan. Namun, bagi Sardi, langkah-langkah itu terasa seperti plester untuk luka yang sudah membusuk.

Yang ia rasakan bukan lagi sekadar daya beli yang melemah, melainkan perasaan menjadi penonton di kampung sendiri, di negeri yang konon kekayaannya melimpah.

Cerita ini tidak berakhir dengan sebuah solusi ajaib. Pemerintah menyadari bahwa tanpa kebijakan yang lebih inklusif, ketimpangan akan terus melebar. Pak Sardi tetap mengemudikan angkotnya, melewati baliho-baliho para raksasa yang kekayaannya tumbuh 163% dalam dekade terakhir.

Di suatu tempat, seorang analis mencatat bahwa ketimpangan ekonomi adalah ancaman terbesar bagi demokrasi, sebuah fakta yang mungkin terlalu abstrak bagi mereka yang sibuk bertarung menghidupi keluarga.

Namun, dari semua angka dan fakta yang rumit itu, Sardi hanya paham satu hal, di republik ini, ada dua set aturan yang berbeda. Satu untuk para raksasa yang kekayaannya setara dengan 1,26 juta kali dirinya, dan satu lagi untuk orang-orang seperti dia, yang hanya bisa berharap tetesan kemakmuran itu suatu saat akan menjadi hujan yang merata. ***

Tinggalkan komentar