Jejak masa lalu boleh jadi menghilang bagi sebagian orang tapi tidak bagi sebagian lagi.
Contohnya sama kawan awak Abel Abdi Purmono. Dia masih punya segudang kenangan masa lalu, dimana sebagiannya ada awak di dalamnya.
Cak laaa klen tengok postingannya pagi ini, dia menuliskan sepenggal kisah perjalanan kami ke Taman Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut sekitar 20 tahun lepas. Kalok awak gak salah kisah ini juga awak rasakan berkat programnya kawan J Anto.
Dia bercerita tentang foto lama hasil jepretan kamera analognya merek Vivitar. Dia bilang itu kini jadi foto nostalgia. Sayangnya sebagian foto-foto waktu itu hilang saat dia berpindah kota sampai lima kali di empat provinsi antara 1999-2001.
Tapi ada dua foto lawas yang sangat ingin dia serahkan kepada orang-orang di dalam dua foto yang diunggahnya. Awak tengok, dan itong-itong, saat ini mungkin bocah lucu dan menggemaskan dalam gambat tu dah bertambah umur laaa.
Paling tak, ada laaa dua puluh sampai tiga puluhan umur bocah-bocah kampong Kuala Besar, di kawasan muara Sungai Karang Gading tu, karena saat kami di sana sekitar 20-21 Oktober 2000.
Abel keknya sedang siket melow laaa, dia berharap siapa pun yang mengenali orang-orang dalam dua foto unggahannya itu bisa menghubunginya agar bisa mengirimkan file foto maupun cetakan fotonya. Hehehe Gratis kok katanya.
Hhhmmm, awak kok jadi ikot melow pula laaa. Hehehe tapi awak dapat siket pelajaran dari Abel pagi ini, ternyata kenangan dan gambar itu bisa abadi dan terpatrikan, walau bukan lagi zaman mesin tik dan kamera analog.
Apa lagi saat ini, zaman now yang serba praktis tapi canggih. Semua kenangan tercatat dan bisa disimpan secara digital baik secara visik maupon virtual.
Kalau laaa semua orang paham dan mengerti itu, dia gak akan berani memasang janji macam Abel untuk memberikan janji-janjinya saat orang lain yang terlibat dalam kerjanya tidak meminta.
Dengan kapasitas dan kapabilitas teknologi informasi dan komunikasi saat ini semua promis atau janji, apalagi muluk-muluk. Semua bisa saja terabadikan orang lain yang termakan janji dan menjadikannya senjata saat pemberi promis ingkar.
Nah dari pelajaran singkat dan kecil itu tadi, awak berharap banyak janji bisa terpenuhi dengan baik dan transparan. Hehehehe kalau itu terjadi itu mantap kaleee laaa, hebat dan #LebihManusiawi.
Tapi, harapan awak tu keknya masih jaoh panggang dari api. Mumbo Jumbo keknya dah jadi kebiasaan atau penyakit kronis anak bangsa yang berhasil melejit kepermukaan dan menjadi pemimpin.
Mereka seakan lupa kacang sama kuletnya. Cilakanya, saat dikritik mereka rittik kata kankawan awak yang agak halus hatinya.
Takot awak, lewat pandemi yang dah makan banyak jiwa dan rupiah ini, banyak yang gegek kaki dan hatinya kena buka buku sejarahnya, atau mungkin ada orang yang dengan senang hati bagi cerita dan gambar macam si Abel yang kini jadi orang Malang yang senang hatinya.
Hehehe maenkan klen fakta dan data, tareeeek maang data dan faktanya, negeri ini milik kita semua, bukan hanya segelintir orang saja, dan pastinya negeri ini juga bukan untuk kepentingan asing. Cocok klen rasa?